Meredanya ketegangan di kawasan Selat Hormuz mulai memberikan dampak terhadap pasar energi global. Malaysia menjadi salah satu negara yang melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) setelah harga minyak internasional bergerak turun.
Pemerintah Malaysia memutuskan menurunkan harga BBM non-subsidi sebesar 10 sen per liter untuk periode awal Juli 2026. Kebijakan tersebut berlaku untuk sejumlah jenis bahan bakar, termasuk RON97, RON95 non-subsidi, dan diesel non-subsidi.
Berdasarkan pengumuman Kementerian Keuangan Malaysia, harga RON97 turun menjadi RM4,00 per liter, sementara RON95 non-subsidi menjadi RM3,37 per liter. Harga diesel non-subsidi juga mengalami penyesuaian menjadi RM3,97 per liter. Penurunan ini dilakukan mengikuti formula Automatic Pricing Mechanism (APM) yang mempertimbangkan rata-rata harga minyak dunia.
Sebelumnya, pasar energi global sempat mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat. Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia, menjadi perhatian karena gangguan di wilayah tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak mentah internasional.
Namun, setelah situasi mulai lebih terkendali, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai berkurang. Harga minyak dunia pun bergerak lebih stabil seiring adanya tanda-tanda pemulihan aliran energi global.
Pemerintah Malaysia menyebut penurunan harga tersebut mencerminkan kondisi pasar minyak internasional yang mulai membaik. Meski demikian, otoritas tetap mengingatkan bahwa pasar energi masih menghadapi risiko karena konflik geopolitik belum sepenuhnya selesai.
Selain menyesuaikan harga BBM non-subsidi, pemerintah Malaysia juga memastikan pasokan bahan bakar nasional tetap mencukupi. Masyarakat tetap diminta menggunakan energi secara bijak untuk menjaga kestabilan pasokan dan mengurangi tekanan terhadap kebutuhan energi domestik.
Perkembangan harga minyak global masih akan menjadi perhatian dalam beberapa waktu ke depan. Jika kondisi geopolitik terus membaik, tekanan terhadap harga energi berpotensi semakin berkurang. Sebaliknya, munculnya kembali konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah dapat kembali memicu volatilitas harga minyak.
Penurunan harga BBM Malaysia menjadi salah satu indikator bahwa pasar energi mulai merespons positif meredanya risiko gangguan pasokan. Namun, pelaku ekonomi tetap mencermati perkembangan global karena sektor energi sangat sensitif terhadap perubahan politik dan keamanan dunia.











